Image and video hosting by TinyPic

Senin, 01 November 2010

Soempah Pemoeda ala Punkers

Belakangan, di beberapa titik kota-kota besar hampir mudah kita temukan penampilan anak-anak muda yang terasa ‘ganjil’ menurut ukuran adat ketimuran. Keganjilan tampak pada cara mereka berpakain, model rambut Mohawk, sepatu boot, dan asesoris body piercing (tindik) sebagian tubuh mereka. Ketidakacuhan prilaku mereka melengkapi penampilannya. Ketika merangsek ke tempat-tempat umum (public space), mereka berkerumun seperti semut hitam yang sedang bercengkrama satu sama lain. Ketidakpedulian sosial seakan-akan menjadi bagian dari ‘ideologi’ yang tertanam dalam benak mereka masing-masing. Simbol-simbol komunikasi pun sepertinya diciptakan berbeda dengan masyarakat umum. Mereka ini sebutan populernya generasi “Punk” ala Indonesia.


Saya tidak mencoba untuk mempersoalkan sejak kapan budaya Punk masuk ke Indonesia. Hanya saja menarik untuk dicermati, budaya impor ini belakangan semakin menjadi sajian yang menggiurkan untuk diadopsi oleh sebagian kecil generasi penerus republik ini. Konon, ketertarikan mereka menjadi “Punkers”, karena ada prinsip-prinsip persamaan (equality) dan kebebasan (freedom) yang dijadikan mottonya. Ekspresi tampilannya pun bagian dari penolakan kultur atau budaya yang selama ini dijadikan tolak ukur masyarakat pada umumnya. Atas nama kebebasan dan persamaan yang dijadikan alasan menolak budaya status-quo itu. Kesetiaan diulurkan hanya untuk komunitasnya, meski kadang harus gesekan dengan orangtua sekalipun.

Kehadiran budaya impor yang satu ini, tidak jarang memunculkan pro-kontra di berbagai lapisan masyarakat. Lapisan masyarakat yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka, beralasan Punk produk budaya impor yang banyak berseberangan dengan nilai-nilai ‘budaya asli’ Indonesia. Maka tidak ada alasan memberikan ‘ruang’ ekspresi bagi generasi Punk ini. Sementara yang pro dengan kehadiran mereka, beranggapan generasi Punk juga bagian dari anak bangsa yang mencoba untuk berekspresi seperti generasi muda yang lain meski dengan cara yang berbeda. Kehadiran mereka dengan seperangkat identitasnya, bagian dari wujud perlawanan terhadap kemapanan budaya yang dianggap membelanggu ekspresi kebebasannya. Yang pro-Punk pun beranggapan, tidak ada alasan yang tepat untuk menyalahkan dan menyudutkan generasi Punk, tapi budaya kita lah yang selama ini kesulitan memberikan jawaban terhadap krisis identitas segelintir generasi muda itu. Gilirannya, mereka jatuh hati pada Punk sebagai jawaban atas krisis identitas yang dirasakannya.

Sengaja tulisan ini mengajak para pembaca untuk memotret atau mungkin berempati atas eksistensi generasi Punk ala Indonesia. Kadangkala saya mencoba berimajinasi untuk menjadi mereka dan merasakan tarikan pencarian identitas yang sangat kompleks itu. Terlepas dari labeling (julukan) yang mereka terima dari masyarakat, yang jelas mereka ini ada dan nyata dihadapan kita semua. Kadangkala mereka ini lepas dari sorotan publik di tengah-tengah hingar-bingar persoalan kebangasaan yang lainnya. Seakan-akan mereka (Punkers) tidak ada, atau adanya dianggap tidak menggenapkan. Bahkan para penyelenggara Negara sepertinya menganggap Punkers sebagai “anak tiri” bangsa yang tidak perlu mendapat perhatian khusus laiknya generasi muda pada umumnya. Demikian juga para akademisi yang tidak mau sedikit berkeringat (serius) untuk menstudi Punkers sebagai indikasi lahirnya sub-kultur baru yang mungkin menjadi salah satu alternatif pilihan generasi penerus bangsa.

Boleh jadi pernyataan ini berlebihan, tapi kita bisa saksikan bersama bahwa realitas Punkers ini wujud, dan kemungkinan akan semakin meramaikan jagat republik ini dengan berbagai problematika sosial yang mereka sandang. Selanjutnya, segera diperlukan keseriusan para penyelenggara Negara, akademisi dan seluruh lapisan masyarakat untuk lebih memberikan ‘perhatian’ yang sama – untuk tidak mengatakan khusus – akan kehadiran Punkers di tengah-tengah keluarga besar bangsa ini.

Terakhir, tentunya catatan kecil ini tidak memakai perspektif, pendekatan atau teori yang terlalu rumit dan ‘njelimet’ itu. Ini hanya sekedar refleksi dan apresiasi untuk generasi muda dengan “Sumpah Pemuda” nya yang selama ini terkesan hanya ritual kebangsaan yang tanpa ruh alias rutinitas semata. Wallahu’alam***

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Rabu, 25 November 2009

Tragedi Pendidikan Nasional Jilid Ke Sekian

Ironis memang Ujian Nasional yang dipayungi sistem pendidikan di Indonesia selalu diiringi dengan jerit tangis anak didik. Hampir dipastikan setiap tahun terjadi stres kolektif dari mulai murid, orang tua, guru, Kepala Sekolah, mungkin juga penyelenggaranya. Deg-degan mewarnai pra-UN sampai jelang papan pengumuman di buka. Alhasil, buka lembaran kertas pengumuman kelulusan dibarengi tangisan, jeritan dan parahnya lagi pingsan sampai gangguan jiwa. Tentunya juga suka cita bagi yang sukses atau lulus mengiringi moment itu, meski diselingi cucuran air mata mengalir terharu.

Apa yang terjadi di Republik ini? kalau Radea (temen saya) selalu bilang "Au ah elap"!? Menurut saya ekspresi temen saya itu cerminan profil mayoritas masyarakat kita hari ini. Mereka sudah ogah-ogahan melihat karut marutnya sistem di Republik ini, termasuk sistem pendidikan. Mereka mungkin sudah letih melihat dan merasakan sekaligus terpaksa menikmati "menu" pendidikan yang cenderung dipaksakan oleh Pemerintah. Saya hampir tidak percaya kalau di Indonesia banyak begawan pendidikan, sebab dari tahun ke tahun korban sistem pendidikan kita semakin bertambah. Tapi suara kritis sayup-sayup tidak terdengar. Para begawan pendidikan itu seperti tidak ada kekuatan untuk menyuarakan ekses sistem pendidikan yang tidak mencerdaskan dan mendewasakan. Belum lagi kalau kita berdebat output & outcome dari produk sistem pendidikan yang sudah dan sedang berjalan ini.

Sedikit ilustarsi produk pendidikan hari ini: Semarak tawuran antar pelajar, narkobaisme di sekolah-sekolah bahkan sampai level mahasiswa tawuran sudah menjadi hiasan media elektronik sehari-hari. Demontrasi diwarnai prilaku anarkhisme yang identik dengan perusakan dan kekerasan. Prilaku korupsiisme yang dilakukan manusia-manusia "terdidik" dan masih banyak lagi praktik dehumanisasi yang bercokol di muka Republik ini. Kalau sudah insan "terdidik" dihinggapi virus dehumanisasi, maka kelanjutan torehan sejarah bangsa ini bisa ditebak kemana akhirnya.

Deretan ilustrasi itu mencerminkan bangsa ini semakin mendekati -- meminjam istilah Cak Nur -- titik nadir, untuk tidak menyebut "tsunami moralitas". Masyarakat hampir sulit mencari figur nasional yang dapat dijadikan "Juru Selamat" bangsa ini. Lagi-lagi, semua itu salah satu bagian dari dampaki sistem pendidikan yang lebih mengedepankan formalitas atau kulit semata, ketimbang substansinya. Sejatinya pendidikan itu mencerdaskan dan membuat enjoy semua pihak. Pendidikan itu wajah yang berseri dan selalu tersenyum. Pendidikan itu mengayomi yang papah dan lemah. Pendidikan itu tidak menindas. Pendidikan itu bukan momok yang menakutkan. Pendidikan bukan sosok "makhluk angker" yang selalu menakut-nakuti anak didik.Wallahu'alam.

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Sabtu, 17 Oktober 2009

SBY dan KIB Jilid 2

Seusai pilpres 2009 pasangan SBY-Budiono terpilih menjadi RI 1 dan 2 periode 2009-2014. Saran dan kritik mengiringi kemenangan SBY yang kedua kalinya dalam memimpin Indonesia ke depan. Mulai bagaimana mengurangi angka kemiskinan, pengangguran, KKN, bencana, bahkan sampai memilih pembantunya (Menteri Kabinet). Yang terakhir ini, kadangkala membuat sibuk insan kuli tinta untuk menebak siapa yang layak mendampingi SBY memimpin bangsa ini berikutnya.

Soesilo Bambang Yudhoyono dikenal sebagai sosok pemimpin "flamboyan". Dia adalah tipe manusia yang super hati-hati, tidak mudah ceplas-ceplos, dan cenderung protektif diri tinggi bila dibandingkan seniornya (Gus Dur). Oleh karenanya, ketika SBY memilih para menterinya sangat mencerminkan kepribadiannya yang selalu mencari jalan keluar "teraman". Jatah menteri Selain dari barisan koalisi partai-partai yang mengusung dirinya, ditawarkan pula pada partai rival pilpres (PDIP dan Golkar). Menariknya, argumen yang disodorkan adalah bahwa sistem presidensil ala Indonesia tidak ada sistem oposisi yang definitif seperti di dalam sistem parlementer.

Terlepas dari setuju atau tidak, realitas selama ini menunjukkan bahwa belum ada mekanisme oposisi di Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang. Hal inilah yang pada gilirannya membuat kebingungan parpol mencari formula yang sesuai dengan aturan main yang berlaku. Terutama partai-partai yang "hobinya" di luar gelanggang kekuasaan eksekutif. Improvisasi dan akrobat politik kadangkala menjadi jalan alternatif bagi mereka yang di luar kekuasaan, agar mendapat ruang respon dari rakyat. Bahkan "kegenitan" politik menjadi senjata ampuh untuk berhadapan dengan kekuasaan, dengan motto "yang penting beda" dengan penguasa.

Sementara SBY dengan karakter yang "menarik" itu, selalu memberikan feedback minim sarkasme. Alih-alih melawan dengan power yang dia punya, malahan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II memberikan sebagian "kue kuasanya" kepada parpol yang dianggap lawan. Boleh jadi terobosan yang dilakukan SBY itu berdampak plus-minus. Plusnya, kalau parpol rival memberikan apresiasi yang tinggi dengan dukungan terhadap seluruh program yang dicanangkan, dampaknya efektifitas pemerintah semakin solid. Minusnya, bila parpol rival kurang/tidak sungguh-sungguh memberikan dukungan, maka berdampak pada kinerja pemerintahan yang disorientasi. Ujung-ujungnya rakyatlah yang menjadi "tumbal" (korban) dari kebijakan pemerintah yang tidak efektif dan solid. Wallahu'alam...

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Jumat, 24 Juli 2009

Obsesi Intelektualitas

Idealnya kegiatan sehari-hari para penggiat ilmu pengetahuan adalah asah otak. Tidak ada hari tanpa menggeluti dunia ilmu, termasuk ilmu bagaimana dapat survival dalam kehidupannya. Sudah tentu, seluruh hidupnya digadaikan untuk sebuah jatidiri seorang pendidik yang konsisten. Hanya saja, spirit konsistensi perlu ada refleksi yang diturunkan dalam bentuk sebuah karya ilmiah yang dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai user.


Dosen dan guru belakangan mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Paling tidak mereka mendapatkan prioritas dari aspek penggajihan sejak anggaran pendidikan naik menjadi 20% dari APBN. Memang belum semua tersentuh oleh program peningkatan kesejahteraan bagi tenaga pendidik termasuk dosen. Namun program ini masih dalam proses yang relatif panjang dan tidak serta merta semua akan selesai dalam waktu sekejap. Yang jelas hari ini -- diakui atau tidak -- peningkatan kesejahteraan itu sudah dapat dinikmati oleh sebagian dari mereka.

Sembari proses peningkatan kesejahtreaan itu bergulir, tugas mulia tenaga pendidik adalah mempercepat proses pencerdasan anak bangsa. Tugas mulia itu akan berjalan mulus, bila dibarengi dengan peningkatan kualitas tanpa henti dan pamrih. Sudah menjadi kemestian kalau para tenaga pendidik mempunyai "nilai tambah" dalam bidang keilmuan untuk menghasilkan output dan outcome yang lebih unggul. Apalagi ditambah dengan antusias dari sebagian masyarakat kita yang menghendaki adanya lembaga-lembaga pendidikan bertaraf internasional. Tuntutan itu akan terrealisir kalau para tanaga pendidik mempersiapkan dirinya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuannya. Lebih-lebih kalau setiap tenaga pendidik (guru dan dosen) mempunyai karya-karya ilmiah yang berbasis riset -- meskipun tidak berlaku semua, seperti seni dan yang sejenisnya. Yang jelas, untuk seluruh tanaga pendidik harus punya karya yang dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat agar terjadi proses perubahan yang lebih proggres.

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Selasa, 02 Juni 2009

Antara Manohara dan Ambalat

Di tengah-tengah perhatian warga-bangsa disibukkan dengan Pilpres 2009, ada sebagian masyarakat kita yang mengalihkan perhatiannya pada kasus (KDRT) Manohara oleh sang suami pangeran Fachri dari Kelantan Malaysia. Ditambah lagi, aparat keamanan (TNI AL) disibukkan dengan pengusiran kapal AL Malaysia yang seringkali melanggar batas wilayah laut Indonesia di Ambalat. Dua kasus inilah yang sempat hampir menggeser isu-isu Pilpres 2009 (DPS, DPT, dan yang sejenisnya) di beberapa media elektronik dan cetak nasional.

Hampir semua media TV nasional tiap hari, jam, menit bahkan detik mem-blow-up dua kasus tersebut. Beberapa TV itu dibanjiri iklan yang tidak berhenti memberikan keuntungan komersil akan berita yang lagi menghangat di masyarakat. Lagi-lagi wajah Manohara dan sang Ibu (Desy) menghiasi media-media elektronik dan cetak Ibukota. Para pengamat politik bilateral pun ikut memberikan komentar disertai bumbu-bumbu kaitannya dengan Pilpres. Lebih seru lagi, tidak bosan-bosannya ibu-ibu bahkan beberapa bapak-bapaknya juga di berbagai tempat ikut memberikan pendapatnya. Ada yang pro, ada pula yang kontra tergantung dari mana mereka memotret masalah itu.

Sejenak kemudian, tayangan TV pun menayangkan kapal perang AL Malaysia memasuki perbatasan wilayah laut NKRI yang sudah berkali-kali terjadi. Tidak kalah antusiasnya TNI AL penjaga perbatasan wilayah laut RI di Ambalat, berkali-kali juga mengusir kapal-kapal AL Malaysia itu. Konon katanya, persoalan perbatasan di wilayah Ambalat sudah seringkali dibicarakan antara kedua negara (Indonesia dan Malaysia). Namun sejauh ini masih terjadi pelanggaran oleh pihak Malaysia yang berusaha memancing di air keruh di atas perundingan kedua negara tersebut.

Menarik untuk dicermati -- kasus Manohara dan Ambalat secara kebetulan bersamaan – menyodorkan batu uji pada pemerintah SBY-JK dalam hubungan bilateralnya dengan negara tetangga. Sejauh ini, mungkin tidak semua masyarakat Indonesia tahu bagaimana pemerintah menjalin hubungan antar negara. Apakah selama pemerintahan SBY-JK negara RI mempunyai jejak rekam yang smart dalam pergaulan antar bangsa? Ataukah justru malahan sebaliknya, selalu dalam posisi mengalah dan mengalah seperti kasus pulau Sepadan-Ligitan yang kalah oleh Malaysia di Mahkamah Internasional.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia tidak tahu (atau tidak mau tahu) logika diplomasi yang pemerintah lakukan. Tetapi yang lebih penting bagi semua warga-bangsa Indonesia, adalah dibutuh pemimpin nasional yang dapat mempertahan kedaulatan dan martabat bangsa. Oleh karena itu, pemimpin masa depan bangsa ini bukan sekedar “Jago Kandang”, namun mereka dapat juga mengangkat citra Republik ini di pergaulan internasional sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat.



baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Rabu, 29 April 2009

BANGSAKU, BANGSA PENGHIBUR ??...

Fenomena berjubelnya para artis menjadi legislator pada pemilu 2009, mengindikasikan bahwa para penghibur itu sudah mulai merangsek ke arena politik praktis. Mungkin mereka mulai menyadari akan pentingnya eksistensi diri di balik glamornya kehidupan selebritas mereka. Asumsi inilah yang menjadi daya magnit para generasi penerus untuk mengikuti jejak para artis yang sudah populer di jagat republik ini.

Maraknya acara-acara hiburan di beberapa media televisi kita, selintas memberikan gambaran tentang sebagian generasi penerus bangsa ini lebih dominan memilih dunia hiburan ketimbang yang lainnya. Lebih spesifik yang dimaksud hiburan di sini seperti, dunia musik, artis atau yang sejenis. Sekedar ilustrasi, tayangan sejenis seperti “Indonesian Idol”, “Mamamia”, “KDI”, “AFI Junior”, “Idola Cilik”, dan masih banyak lagi yang serupa, ternyata menduduki rating tertinggi dalam tayangan televisi di republik ini. Uniknya, penggemar acara-acara itu tidak pandang bulu, mulai dari kalangan muda sampai kakek-nenek, dari kelas atas (para pejabat) sampai masyarakat biasa. Semua kalangan bagaikan terhipnotis dengan tayangan seperti itu, dan sejenak melupakan seluruh problem yang sedang mendera mereka. Tak ketinggalan pula orang nomor “wahid” pun di negeri ini Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono pun, ikut meramaikan dunia hiburan dengan album lagu terbarunya.

Fenomena yang seperti di atas, mengindikasikan bahwa bangsa kita hari ini sedang mengalami “metamorfosis” – perubahan bentuk dan prilaku – yang berorientasi pada pencarian identitas. Menarik untuk dicermati, bahwa bangsa yang sedang mengalami proses pemulihan di berbagai bidang memerlukan sarana penampung minat dan bakat. Hanya saja, lebih dominan memilih sebagai penghibur. Pilihan ini bukan bicara salah-benar. Namun, porsi yang mesti dipertimbangkan adalah keseimbangan orientasi. Sebab, kalau generasi penerus banyak menjadi penghibur, kemungkinan ke depan bangsa ini krisis kepemimpinan yang handal di bidang sain dan teknologi. Kalau sudah begitu adanya, mungkin dirasakan perlunya keseimbangan akan lajunya “bola pendulum” tatanan masa depan calon pemimpin masa depan bangsa.


baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Senin, 06 April 2009

Mahalnya Demokrasi

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan caleg DPR RI untuk Dapil wilayah kota tertentu di Jabar pada Pemilu legislatif 2009. Dari obrolan itu banyak informasi yang saya dapatkan terutama menyangkut sepak terjang para wakil rakyat selama ini langsung dari sumber aslinya. Kebetulan dia juga sudah dua periode duduk di senayan sebagai wakil rakyat , jadi cukup pengalaman dalam mengilustrasikan berbagai anekdot wakil rakyat yang “terhormat” itu.

Singkat cerita, menurut dia pemilu 2009 adalah sangat berat dan besar “ongkosnya”. Bukan hanya ongkos financial, tetapi sosial, politik, keamanan, psikologis dan yang jelas ekonomi. Kenapa demikian, karena pemilu 2009 lebih ditekankan suara terbanyak dari masing-masing calon legislatif, dan bukan karena nomor urut seperti pemilu-pemilu yang lalu. Sistem yang seperti ini bagi caleg yang sudah punya investasi popularitas di masyarakat mungkin tidak begitu berat. Namun bagi caleg yang baru memulai dan belum banyak dikenal masyarakat menambah sederet kerja keras yang sulit dibayangkan. Belum lagi, regulasi lainnya yang banyak memberikan beban tambahan bagi mereka, seperti caleg harus transparan dalam mengelolah anggaran kampanye.
Dari caleg DPR RI itu, saya dapatkan informasi bahwa negara dalam menyelenggarakan Pemilu Legislatif dan Presiden2009 menghabiskan kurang lebih 25 Triliun. Jumlah ini bukan ongkos yang kecil ditengah-tengah krisis global yang juga menerpa bangsa kita. Belum lagi ongkos-ongkos lainnya (sosial, politik, budaya dan keamanan). Yang jelas, demokrasi mahal ongkosnya. Namun, sepertinya demokrasi lah yang lebih kecil resikonya ketimbang otoriterian.

Berikutnya, yang kita harapkan dari demokrasi adalah tatanan Indonesia yang lebih beradab, bermartabat dan memanusiakan manusia. Siapapun yang jadi wakil rakyat, dan pimpinan nasional di kemudian hari, tidak ada tawar-menawar harus dapat memberikan kontribusi yang terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia. Hari ini, rakyat sudah melek politik. Hari ini rakyat sudah bangun dari tidurnya. Hari ini rakyat sudah siap menentukan pilihan demokrasinya. Hari ini, karena sistem demokrasi yang dipilih menjadi “semen” politik di Indonesia, maka harus dihargai, dihormati dan diperlakukan dengan semestinya. Demokrasi jangan diciderai, dilecehkan dan diperlakukan dengan tidak terhormat. Sebab, bila terjadi, rakyat kehilangan kepercayaannya dengan demokrasi yang pada gilirannya memunculkan anarkhisme dan otoritarianisme.

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Rabu, 18 Februari 2009

ANTARA PONARI DAN HILLARY



Sekali lagi Ponari masih memenuhi lembaran berita berbagai media nasional selain kehadiran Hillary Clinton (Menlu AS) ke Indonesia (18/2/2009). Boleh jadi popularitas Hillary menjadi redup karena “kesaktian” Ponari sang dukun Cilik asal Jombang Jatim. Tapi hanya di Indonesia, khususnya di Jombang dan sekitarnya. Meskipun sudah banyak yang memberikan komentar “miring” tentang kehadiran Ponari dan kedatangan Hillary ke Indonesia, namun keduanya tetap survival dan populer. Itulah yang menyebabkan kesamaan antara Ponari dan Hillary.

Kenapa fenomena Ponari menjadi semakin menarik untuk disimak, seperti halnya kedatangan Hillary? Terdapat beberapa kesamaan antara kedua makhluk Tuhan ini. Pertama, Ponari selain dia punya kelebihan pengobatan alternatif yang juga didukung oleh spirit masyarakat yang lebih mengedepankan mitos, dia juga dipopulerkan oleh media. Begitu juga dengan Hillary, karena kelebihannya sebagai Menlu AS (negara Adidaya) yang berpengaruh pada konstelasi Internasional. Lebih pasnya lagi banyak negara, termasuk Indonesia, beranggapan bahwa Amerika Serikat mempunyai “Smart Power”-- meminjam istilah Hillary. Media pun, baik nasional maupun internasional mem-blow-up kekuatan Amerika Serikat dengan berbagai sepak terjang kebijakan politik luar negerinya.

Kedua, diakui atau tidak, kehadiran Ponari ditengah-tengah masyarakat Jombang dan sekitarnya memberikan dampak yang signifikan, paling tidak sosial ekonomi dan mungkin psikologis di lingkungannya. Dengan berjubelnya pencari berkah dari Ponari, masyarakat sekitar tempat tinggal Ponari pun mendapatkan berkah rezeki dari pelayanan jasa panitia penyambutan tamu, juru parkir dan keamanan. Bahkan sebagian warga sekitar, membuka warung-warung makanan dan minuman untuk menyediakan kebutuhan pokok para pengunjung Ponari. Jadi, secara tidak langsung keberadaan Ponari memberikan tambahan ekonomi masyarakat sekitar yang sangat berarti. Demikian juga kedatangan Hillary ke Indonesia, memberikan berkah bagi pemerintah Indonesia dan sebagian kecil warganya, terutama para “player” bilateral. Mungkin untuk pemerintah Indonesia berkahnya adalah, lebih memperbaiki hubungan bilateral sekaligus multilateral dalam aspek ekonomi, politik, militer dan keamanan dengan AS dan sekutu-sekutunya.

Sedangkan perbedaannya adalah, Ponari sosok yang masih polos dan tidak mempunyai tendensi untuk memperdayai para pasiennya. Ponari adalah perwujudan dari ketulusan dalam menolong sesama tanpa pamrih yang berlebihan. Dia tidak mengenal teori Adam Smith, Tallcot Parson, atau Karl Marx. Tetapi dia dalam tataran realitas sosial, sudah banyak memberikan kontribusi kepada sebagaian masyarakat, terlepas dari pro dan kontra. Sementara sosok Hillary Clinton, adalah representasi dari negara adidaya dan super power yang selalu mempunyai hidden agenda dalam interaksi dengan negara-negara lainnya. Hampir mustahil, bila Amerika Serikat bersikap tulus dan tanpa pamrih dalam memberikan bantuan untuk negara lain, terutama yang bukan sekutunya. Dalam konteks ini yang membedakan antara Ponari sang dukun cilik dengan Hillary Clinton sang “polisi dunia”.


baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Selasa, 17 Februari 2009

Ponari: Fenomena Mitos Masyarakat Indonesia


Fenomena Ponari (10 tahun) sang dukun cilik dari Jember Jawa Timur menjadi tambahan agenda tontonan nasional. Masyarakat pada umumnya teralihkan sejenak perhatiannya pada “sakralisasi” batu dan bocah asal Jember itu. Ribuan orang berjubel untuk mendapatkan kekeramatan dari soulmatenya batu dan Ponari. Macam-macam hajat yang diinginkan dari para pasien itu. Ada yang ingin sembuh dari penyakit yang sudah menaun tidak sembuh-sembuh, ada pula yang mencari berkah agar terhindar dari berbagai penyakit. Beragam keinginan dan harapan yang disodorkan pada sang dukun cilik ini hanya dengan “batu keramat” yang dicelupkan ke dalam air dari tangan mungil Ponari.

Ironisnya, meskipun sudah memakan korban meninggal dunia 2 orang karena kelelahan antri untuk dapat ketemu dengan Ponari, semakin banyak yang berharap dapat berkah dari dukun cilik itu. Sudah berbagai upaya dilakukan oleh aparat keamanan untuk mencegah terjadinya korban susulan dengan ditutupnya praktek pengobatan massal, kendatipun dibuka kembali karena desakan pengunjung. Bahkan Ponari yang sempat dievakuasi ke Rumah Sakit karena kelelahan melayani ribuan pengunjung. Begitulah tayangan yang disampaikan ke publik oleh berbagai media nasional tentang Ponari “dukun cilik” yang hampir menggeser perhatian masyarakat dari gegap gempitanya pra Pemilu 2009.

Masyarakat yang terlibat dalam sakralitas Ponari dengan batu keramatnya, berupaya untuk menciptakan dan memelihara simbol mitos kosmologi. Artinya, Ponari dibentuk oleh masyarakat pengagumnya sebagai manusia setengah dewa yang mempunyai kekuatan gaib. Hakikatnya mitos itu menurut Bascum (1986) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang punya cerita. Mitos dipersonifikasikan dengan para dewa atau manusia setengah dewa. Peristiwa itu terjadi di dunia lain dan bukan dunia yang dikenal sekarang ini.

Mariasusai Dhavamony (1995) ahli Fenomenologi Agama beranggapan, bahwa memelihara mitos adalah bagian dari kebudayaan masyarakat primitif. Menurutnya, fungsi mitos bagi masyarakat primitif adalah untuk mengungkapkan, mengangkat dan merumuskan kepercayaan kepercayaan, melindungi dan memperkuat moralitas, menjamin efisiensi dari ritus, serta memberi peraturan-peraturan praktis untuk menuntun manusia. Jadi intinya, budaya mitos merupakan produk masyarakat yang lebih mengedepankan aspek spiritual ketimbang rasional.

Masyarakat Indonesia yang sebagian besar tingkat pendidikannya SMP ke bawah, menjadi pemicu berkembangnya mitos-mitos yang di luar batas pertimbangan rasionalitas. Mereka beranggapan bahwa, kehidupan di dunia ini tidak sekedar membutuhkan akal sehat semata, tetapi lebih dari itu, sebagian besar hidupnya untuk sesuatu yang supernatural. Yang dimaksud supernatural disini adalah, sesuatu yang diluar akal sehat atau dunia gaib dan memerlukan kepercayaan yang totalitas tanpa skeptisisme.

Untuk itu, dalam rangka memperkecil budaya mitos yang cenderung tidak mendidik dan anti rasionalitas dalam beragama, diperlukan solusi yang tepat dari para pemuka agama dan para pakar ilmu-ilmu sosial. Solusi yang dibutuhkan bukan sekedar menghilangkan spirit mitos masyarakat, tetapi memberikan alternatif pendidikan yang lebih konprehensif tentang pola hidup sehat berbasis agama dan pelayanan publik. Selanjutnya, ada asistensi atau pendampingan dari lembaga- lembaga yang berkompeten di bidang pemberdayaan masyarakat agar dapat menepis budaya mitos yang tidak sehat dan menyesatkan itu. (Sumber gambar: Kompas)

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Selasa, 10 Februari 2009

Fatsun Politik Bangsa

Belakangan suhu politik Indonesia semakin memanas, meski pemilu 2009 masih beberapa bulan lagi. Dari mulai tohokan politik “Yoyo” Megawati, isu “ABS” dikalangan militer sampai pernyataan Ahmad Mubarok (Wakil Ketua PP Partai Demokrat) 2.5% perolehan suara Golkar. Gonjang-ganjing politik pra-pemilu 2009 ini menandakan sudah mulai ditabuhnya genderang perang politik antar partai dan tokoh nasional.


Belum lagi “perang bintang” (star wars) antar purnawirawan Jenderal TNI yang ingin masuk di kancah perpolitikan nasional. Sebut saja Wiranto, Sutiyoso, Prabowo dan masih ada beberapa lagi yang belum tegas menampakkan diri sambil melihat perkembangan berikutnya. Mereka sangat optimis kalau kepemimpinan nasional digengamannya Indonesia bakal maju dan rakyat sejahtera. Hampir semua calon RI 1 sampai calegnya mengumbar janji dengan berbagai retorika politik yang bombastis. Tidak cukup dengan slogan janji, jurus menohok lawan politik pun dilakukan agar dapat meraup sebanyaknya dukungan dari berbagai kalangan masyarakat.

Memang tidak ada larangan dalam mengumbar janji dari para calon, tapi yang mesti lebih diperhatikan adalah fatsun politik yang elegan. Tidak saling menghujat antar mereka yang berbeda platform politiknya. Para calon pemimpin bangsa ini seharusnya belajar dari perjalanan bangsa yang semakin hari belum jelas – untuk tidak menyebut “bablas” -- orientasinya. Untuk itu sudah waktunya seluruh komponen bangsa ini menyatukan visinya untuk berbenah diri mambangun peradaban bangsa ini. Tidak ada bangsa besar yang dibangun dari puing-puing ke-ego-an. Tapi justru, fondasi bangsa besar dibangun dari titik temu energi positif dari semua warga bangsa.

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Selasa, 27 Januari 2009

Sekali Lagi Judulnya Demokrasi

Bagaimana disebut sebagai bangsa yang santun dan beradab, kalau setiap pesta demokrasi (pemilu atau pilkada) selalu berdampak pada kerusuhan dan kerusakan. Belum lagi menyangkut keindahan dan ketertiban kota/daerah yang dikotori oleh berbagai baliho, spanduk dan brosur gambar caleg dan calon kepala daerah. Sejauh ini sebagian masyarakat Indonesia menganggap demokrasi lah yang menjadi biang kerok konflik sosial dan patologi sosial di masyarakat kita.


Dampak menggeliatnya demokrasi di Indonesia pada era pasca Orba, adalah semakin menyeruaknya aspirasi dari berbagai golongan masyarakat. Aspirasi yang didasarkan pada kepentingan yang beragam itulah penyebab dari gesekan tajam selama ini. Lebih-lebih di era ini pula, berbagai aspirasi hampir sulit dibendung. Bahkan ketika di zaman Orba dianggap tabu, hari ini bisa begitu mudah muncul dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Salah satu contoh, wacana golput dalam setiap pemilu/pilkada menjadi suguhan sehari-hari di publik kita. Malahan mantan Presiden RI Gus Dur menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk golput pada pemilu 2009.

Ditambah lagi, maraknya demonstrasi oleh mahasiswa dan masyarakat hampir setiap hari mewarnai headline media-media Ibukota, termasuk media elektronik. Suguhan aksi unjuk rasa yang hampir tiap hari itu berdampak pada kejenuhan masyarakat terhadap atmosfir demokrasi. Masyarakat sudah pada titik nadir apriori dan menganggap bahwa aksi demonstrasi selama ini belum tentu murni memperjuangkan aspirasi mereka. Tidak jarang ungkapan "nyinyir" dari sebagian masyarakat dalam merespon aksi-aksi unjuk rasa itu. Yang jelas, masyarakat sebagian besar menghendaki adanya perubahan yang berarti di era reformasi ini. Perubahan yang dimaksud bukan hanya kebebasan menyampaikan aspirasi saja, namun lebih dari itu, meningkatnya kesejahteraan rakyat, tegaknya hukum dan keadailan tanpa pandang bulu.

Pada akhirnya siapapun yang memimpin bangsa ini pasca pemilu 2009, rakyat menghendaki "atmosfir segar" demokrasi. Artinya, demokrasi dimaknai sebagai aspirasi rakyat yang elegan dengan meminimalisir gesekan horisontal dan mengedepankan fatsun politik yang beradab. Begitu pula, bagi para pemimpin terpilih, untuk selalu merespon aspirasi rakyat sebagai inspirasi genuin yang menjadi pijakan dasar pengambilan kebijakan. Meskipun aspirasi itu muncul dari luar kelompok atau in-groupnya, asal berdampak pada kepentingan bersama dan demi kemajuan bangsa.



baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Senin, 19 Januari 2009

Foto-Foto Palastina Bardarah

foto-foto













baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Minggu, 26 Oktober 2008

Mendongkrak Popularitas SBY

Terapi kejut yang dilakukan KPK terhadap kasus BLBI belakangan ini menjadi polemik yang berkepanjangan. Para pengamat memprediksi penanganan kasus ini akan berlarut-larut sesuai dengan perkembangan kekuatan kepentingan yang saling tarik-menarik. Namun fenomena ini menggambarkan ke publik bahwa kepemimpinan duat SBY-JK berhasil menggiring para "pengemplang" uang negara ke meja hijau. Diakui atau tidak, prestasi ini patut diapresiasi atas keberaniannya untuk membongkar "kotak pandora" yang selama masa Orba dianggap tabu dalam membongkar kasus-kasus pejabat.


SBY yang flamboyan itu ternyata menyimpan energi petarung yang cukup membuat banyak orang terperanjat. Tidak sedikit pengamat yang meleset dalam memotret model kepemimpinan SBY. Terkesan dengan style kalemnya, ternyata SBY sanggup merubah tradisi "ewuh pakewuh" yang selama inii dilestarikan para pendahulunnya (Soeharto, Gus Dur dan Megawati). Sekali lagi, SBY patut mendapat acungan jempol dalam persoalan ini, meskipun masih jauh dari harapan tapi ada sesuatu yang dapat dan sudah dilakukannya.

Hanya saja akan lebih produktif, dalam upaya mendongkrak popularitas dan meraup suara mayoritas Pilpres 2009, SBY harus berani melakukan terobosan yang bombastis. Pertama, kebijakan perekonomiannya murni berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Kedua, penegakkan hukum yang tidak tebang pilih, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan kroni. Lebih-lebih, bila sang "besan"(Aulia Pohan) terbukti bersalah dalam kasus BLBI, SBY harus berani ambil sikap tegas dan hanya berpihak pada kebenaran plus keadilan. Kedua terobosan inilah diprediksi dapat memberikan kontribusi popularitas dan suara yang signifikan pada Pilpres 2009. Silakan dibuktikan Pak Presiden...

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Jumat, 05 September 2008

Titik Temu Agama-agama

Keberadaan agama-agama di dunia seringkali menjadi topik pembahasan yang tak henti-hentinya dari masa ke masa. Terutama yang menyangkut agama-agama besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, yang menurut sejarah Islam adalah dari satu keturunan yang sama yaitu dari Nabi Ibrahim, atau dikenal dengan ”Bapak para Nabi” (abul-anbiya’). Ibrahim juga dijuluki “Bapak Orang Beriman” dalam tiga tradisi agama Yahudi, Kristen dan Islam, meskipun pada gilirannya konsep keimanan di antara tiga agama tersebut menjadi pemicu perbedaan yang berarti sampai saat ini.

Seperti yang disebutkan Al-Quran bahwa setiap kelompok manusia selalu didampingi oleh para rasul, meskipun hanya sebagian kecil saja yang dituturkan oleh Al-Quran dan Nabi Muhammad. Bahkan dalam satu riwayat tertentu, Nabi Muhammad menyatakan jumlah rasul itu ada tiga ratus lima belas orang. Tetapi yang banyak dikenal oleh umat Islam pada umumnya sebanyak dua lima rasul, mulai dari Nabi Adam (bapak umat manusia) sampai Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul (khatam al-anbiya wa al-mursalin). Nurcholis Madjid (1994) menuturkan, bahwa Al-Quran pun mengisahkan sebagian para rasul itu adalah pelanjut dari ajaran Taurat dan Injil (“Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru”), dan semua berasal hanya dari kalangan bangsa-bangsa Semit di Timur Tengah.
Menurut keimanan Islam, bahwa sebagian besar para rasul itu merupakan keturunan Nabi Ya’qub yang digelari Israil (hamba Allah) yang kemudian mereka lebih dikenal dengan sebutan Bani Israil (keturunan Israil). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Al-Quran dengan sebutan al-asbath (lihat QS.Al-Baqarah: 136 dan 140) yang terbagi ke dalam dua belas suku (QS.Al-A’raf:160), yang mengikuti jumlah anak Nabi Ya’qub yang berjumlah dua belas orang. Dalam sejarah Islam mengisahkan bahwa suku-suku Israil itulah yang selama ratusan tahun dijadikan budak dan selalu ditindas oleh Fir’aun sang penguasa Mesir, yang dikemudian hari dibebaskan oleh Nabi Musa dan sekaligus menjadi umatnya.

Masih menurut kisah Al-Quran, bahwa Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq dan Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari istri pertamanya, Sarah. Sedangkan dari istri kedua, Siti Hajar, Nabi Ibrahim mempunyai putra bernama Nabi Ismail yang kelak menurunkan Nabi Muhammad SAW. Jadi secara geneologi bahwa para rasul itu adalah masih satu keturunan yaitu Ibrahim. Untuk itu, secara primodial paham-paham keimanan ketiga agama itu (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah bertolak dari “Millah Ibrahim” (Agama/ajaran Ibrahim). Artinya, ketiga agama itu, idealnya mempunyai konsep keimanan yang sama, meski pada tataran tradisi ritual (syari’ah) beraneka ragam sesuai dengan perbedaan ruang dan waktu.

Oleh karena itu, membicarakan ketiga agama, Yahudi, Kristen dan Islam dalam rangka mencari titik temu merupakan agenda utama yang perlu dikedepankan. Hal itu terkait dengan semakin meruncingnya perbedaan cara pandang teologis yang unjungnya merangsek pada konflik fisik berabad-abad lamanya. Untuk hal tertentu, peristiwa konflik bernuansa agama diperingati sebagai “tragedi kemanusiaan” yang sulit dicarikan penyelesainnya. Padahal, semua ajaran agama-agama besar itu menyerukan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi dengan menjunjung tinggi semangat menebar kasih sayang di antara sesama manusia.

Secara sosiologis, pertemuan agama Yahudi, Kristen dan Islam sudah berlangsung sangat lama. Berbagai dialog sudah dan sedang dilakukan oleh mereka dalam rangka mencari persamaan dan perbedaannya, baik dari aspek tradisi ritualnya sampai pada tataran teologisnya. Dialog dalam konteks teologis pada dasarnya bukan hanya mencari perbedaan semata, tetapi hal itu akan menjadi basis etika hubungan kemanusiaan. Dalam arti, agama-agama apa saja dalam melangsungkan dialog tidak menjadi “tabu” ketika sekaligus mencari persamaan dan perbedaannya dalam tataran teologisnya, yang pada gilirannya menjadikan spirit “agree and dis-agreement” (kesafahaman dalam perbedaan). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan filosof modern Hans Kung yang dikutip Nurcholis Madjid, “No peace among the nations without peace the religions; No peace among religions without dialog between the religions; No dialogue between religions without investigating the foundation of the religions”.

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Kamis, 15 Mei 2008

Kursi Presiden=Kursi Panas

Menjelang pemilihan kepala Negara (Presiden) tahun 2009, bangsa Indonesia dengan segenap komponennya sudah banyak melakukan berbagai persiapan. Mulai dari perangkat undang-undangnya, mekanisme pemilihan, hingga yang berkaitan dengan anggaran biayanya. Langkah-langkah semua itu dalam rangka mempersiapkan puncaknya pesta demokrasi pasca proses Pilkada di sebagian wilayah Indonesia. Meskipun dalam tataran realita, masih banyak yang harus ditinjau ulang tentang pesta demokrasi yang dilaksanakan di daerah-daerah tertentu. Hal ini merupakan perwujudan dari proses pembelajaran berdemokrasi bagi seluruh bangsa Indonesia setelah runtuhnya rezim Orde Baru -- yang sempat mengalami “mati suri”.



Dalam perjalanan berikutnya, demokrasi di Indonesia mengalami pasang-surut yang berarti. Dampak yang ditimbulkan oleh uji coba demokrasi murni tidak jarang memunculkan sikap-sikap intoleransi, karena atas nama perjuangan hak asasi manusia (HAM) dan kebebasan. Tak pelak lagi, ujung-ujungnya seringkali menimbulkan gesekan atau konflik horizontal yang berlarut-larut sekaligus sulit untuk dicarikan solusinya. Diakui atau tidak, demokrasi adalah pilihan sistem kenegaraan yang sangat berat, bahkan mungkin merupakan bentuk pemerintahan yang paling rumit dan sulit. Tapi sejauh ini hanya sistem demokrasi yang dapat diandalkan accountability –nya ketimbang sistem yang lainnya.

Sekali lagi berkaitan dengan Pilpres yang akan datang di Indonesia, nampaknya perangkat lunak demokrasi sudah dipersiapkan sedemikan rupa meskipun masih perlu diperbaiki di sana-sini. Namun persoalan yang muncul berikutnya, adalah apakah demokrasi yang sedang ditegakkan di bumi pertiwi ini berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyatnya? Ataukah dengan proses demokrasi ala Indonesia ini semakin membawa ke arah yang lebih baik ataukah justru sebaliknya?

Kedua pertanyaan di atas sebetulnya hanya dapat dijawab oleh segenap warga-bangsa yang merasa mempunyai kepedulian yang konprehensip tentang nasib bangsa ke depan. Tanpa kepedulian dan empati tentang nasib seluruh persoalan-persoalan kebangsaan, mungkin sulit diharapkan akan dapat bangkit dari “mati suri” nya bangsa ini.

Siapapun dan dari golongan manapun pimpinan nasional (Presiden) yang akan datang, pada umumnya rakyat tidak akan mempersoalkan sejauh prilakunya menyentuh aspek-aspek substantive-populis. Bagi rakyat, Presiden di masa depan adalah figure yang mempunyai “imajinasi” kerakyatan, atau yang selalu berempati dengan problem-problem rakyat banyak. Mulai dari aspek kesejahteraan, pendidikan, keamanan, partisipasi politik dan perlakuan hukum yang adil dan lain sebagainya. Itu semua yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang latar belakang calon pimpinan nasional di masa depan.

Sebetulnya, hari ini para penyelenggara Negara belum – untuk tidak menyebutkan sama sekali – memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesejahteraan dan rasa keadilan pada seluruh rakyat. Hari ini pula, rakyat keseluruhan sudah hampir kehilangan kepercayaan kapada seluruh pemimpin di semua lapisan. Mulai dari pemimpin partai politik, birokrasi dan para pejabat publik. Krisis kepercayaan ini pada gilirannya pada pejabat tinggi Negara tidak terkecuali Presiden dan Wakilnya.

Untuk itu, ke depan kursi RI 1 (Presiden) di Indonesia bukanlah sebuah anugerah atau “kursi empuk” bagi siapapun. Tapi, merupakan “kursi panas” yang mempunyai konsekuensi logis terhadap nasib seluruh warga-bangsanya. Setuju atau tidak, kepemimpinan selalu berjalan beriringan dengan hukum alam (natural selection). Jadi artinya, apabila seorang pemimpin yang tidak dapat memenuhi kriteria integritas-universal, maka dengan sedirinya akan tergusur atau terpelanting dari posisi kepemimpinannya alias akan di-lengser-kan atau ter-lengser-kan.


baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Selasa, 08 April 2008

Dies Natalis ke 40 UIN SGD Bandung: Sebuah Refleksi

Lazimnya, usia 40 tahun merupakan tahapan final pematangan sikap mental bagi manusia pada umumnya. Sebagian pakar psikologi mengkatagorikan usia 40 tahun adalah starting-point perubahan identitas, baik yang berorientasi progress (maju) maupun regress (mundur). Arti kata, di usia 40 tahun, seseorang akan diverifikasi tingkat kedewasaannya dalam menentukan arah perjalanan hidupnya di masa depan. Sekedar ilustrasi, Muhammad SAW. pun dilantik menjadi Rasul oleh Allah SWT di saat usia 40 tahun, meskipun pada gilirannya hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dibalik kematangan usia tersebut.


Adalah UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung yang pada tanggal 8 April 2008 menapaki usia yang ke 40 tahun. Sesuai dengan proses perjalanan waktu -- UIN SGD yang dulunya bernama IAIN SGD – sudah menjadi “makhluk” institusi pendidikan yang secara psikologis “terkesan” lebih dewasa dan “matang”. Perjalanan panjang yang sudah ditempuh UIN SGD selama ini, sudah lebih dari cukup untuk dijadikan proses pembelajaran (learning process) dalam rangka menyongsong masa depan yang lebih baik. Semua “batu sandung” yang selama ini menjadi kendala, patut dijadikan pelajaran yang berharga untuk selalu dicarikan alternatif pemecahannya.

Sebagai bahan evaluasi, UIN SGD secara proporsional perlu mendapat perhatian khusus dari segenap stake holders agar segera mungkin dapat melakukan pembenahan internal dengan serius, antara lain:

Aspek Akedemik
Secara ideal, sebuah Perguruan Tinggi (PT) tidak terkecuali UIN SGD akan menjadi institusi pendidikan yang dianggap centre of excellence, bila secara terus-menerus meng-update piranti-piranti akademiknya. Maksudnya, akan menjadi lebih progress apabila secara periodik UIN senantiasa melakukan monitoring dan evaluasi (monev) tentang perkembangan akademik yang selama ini telah dan sudah diselenggarakan. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana efektifitas dan efisiensi (tepat sasaran) kurikulum yang sudah di berlakukan oleh institusi terhadap mahasiswanya. Termasuk di dalamnya metode dan proses belajar mengajar (PBM) yang digunakan oleh para dosennya, sekaligus dengan berbagai fasilitasnya.

Setuju atau tidak, selama ini peningkatan kualitas akademik UIN SGD masih dirasakan kurang maksimal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal demikian, antara lain; pertama, tradisi akademik kurang mendapat porsi yang selayaknya. Artinya, minimnya minat sebagian civitas akademik (mahasiswa dan dosen) untuk terlibat dalam kelompok-kelompok studi atau klub diskusi ilmiah, termasuk di dalamnya penelitian. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada melemahnya spirit sensifitas dan kritisisme terhadap isu-isu kontemporer baik internal maupun eksternal. Bahkan pada gilirannya, secara kualitatif output atau “jebolan” UIN SGD – ekstrimnya—terkesan menjadi second class di masyarakat, kendatipun pernyataan ini tidak sepenuhnya benar.

Kedua, masih ada dari beberapa staf pengajar (dosen) yang belum mendapatkan fasilitas (subsidi) memadai untuk melanjutkan studinya. Akibat dari hal ini, tidak sedikit dosen mencari tambahan income dari luar kampus untuk pendidikan lanjutan yang mereka tempuh. Realitas demikian ini – untuk tidak menyebut apologetik -- berakibat pada terganggunya profesionalisme dosen yang berkewajiban maksimal untuk mengabdi di kampus. Ketiga, belum adanya figur – baik kaliber lokal maupun nasional -- yang dapat memberikan tauladan atau pengaruh positif terhadap keberadaan seluruh civitas akademika maupun alumni berikutnya.

Aspek Kemahasiswaan

Adalah mahasiswa, yang secara substansif mempunyai peran dominan dalam proses dinamika institusi perguruan tinggi (UIN). Secara kuantitatif kegiatan kemahasiswaan di UIN SGD menunjukkan progresifitas yang berarti. Dalam konteks historis, kegiatan kemahasiswaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sesuai dengan tuntutan keberadaan unit-unit lembaga/organisasi mahasiswa yang secara legal-formal diakui oleh lembaga PT. Tetapi secara kualitatif, kegiatan kemahasiswaan masih perlu peningkatan yang signifikan dalam rangka mengikuti tuntutan perkembangan dunia perguruan tinggi. Artinya, setiap kegiatan lembaga-lembaga kemahasiswaan – intra maupun ekstra – selalu up-to-date dan sesuai dengan jati diri dunia mahasiswa yang selalu berperan sebagai moral-force dan lebih mengedapankan kepeduliannya terhadap masyarakat pada umumnya.

Kongkritnya, dunia kemahasiswaan di UIN SGD ke depan, semestinya semakin banyak memberikan kontribusi nyata akan kepentingan umat/rakyat. Dengan begitu, rakyat dapat merasakan langsung eksistensi mahasiswa yang nota-bene sebagai agent of social changes atau agen perubahan sosial. Untuk menciptakan sikap mental seperti itu, diperlukan pembinaan yang intensif atau up-grading terhadap para calon aktifis mahasiswa agar lebih sensitif dan merasa including dengan seluruh problem sosial.

Aspek Pengabdian Masyarakat
Sudah menjadi image umum, bahwa keberadaan Perguruan Tinggi (PT) adalah refleksi dari sebuah masyarakat di mana PT itu berada. Demikian halnya UIN SGD yang berada di wilayah Jawa Barat, seyogyanya mempunyai peran yang strategis bagi keberlangsungan umat Islam dari aspek pendidikan tinggi-plus (agama). Citra demikian ini sulit terbantahkan, bila eksistensi UIN SGD selama ini terasakan langsung oleh umat Islam khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Oleh karenanya, dengan semakin kompleksnya problem keumatan paling tidak di wilayah Jawa Barat, -- seperti isu anarkhisme yang mengatasnamakan agama, munculnya aliran-aliran “sesat” dan isu-isu yang sejenisnya -- maka idealnya UIN SGD dengan kecerdasan emosionalnya dapat memberikan solusi yang genuine sesuai dengan kontekstualisasi ajaran Islam dan semangat rahmatan lil alamin. Sehingga pada gilirannya, kehadiran UIN SGD sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat dan akan selalu didambakan untuk menjadi problem solver yang kaitanya dengan keislaman dan keumatan. Bahkan boleh jadi dalam konteks makro, UIN SGD akan dilibatkan secara resmi oleh lembaga-lembaga terkait untuk merumuskan persoalan-persoalan kebangsaan dan sekaligus menjadi grand setter-nya.

UIN SGD Masa Depan
Untuk merespon hal di atas, ada beberapa langkah strategis yang harus ditempuh oleh UIN SGD sebagai perguruan tinggi plus (Islam), antara lain: Pertama, diperlukan motivasi dan kesungguhan dari seluruh civitas akademika UIN SGD Bandung untuk selalu siap merubah diri dan lebih-lebih siap untuk membuka diri dari segala koreksi oleh berbagai pihak. Mungkin agak terlalu sederhana untuk dikatakan -- ketertinggalan UIN SGD dari perguruan tinggi yang lain di masa lalu – salah satunya disebabkan kurang memaksimalkan “alat kontrol” (Senat dan sejenisnya) yang memberikan masukan tentang langkah-langkah strategis dalam memajukan intitusi pendidikan yang ideal. Lebih jelasnya, dalam membenahi UIN SGD di berbagai aspek diperlukan keterlibatan semua pihak yang berkompeten untuk memberikan kontribusi sesuai dengan bidang keahliannya. Tanpa hal ini, sulit mewujudkan sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sesuai dengan harapan umat dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya.

Kedua, pembenahan dan penguatan pada aspek kelembagaan. Artinya, UIN SGD sebagai institusi pendidikan tinggi, semaksimal mungkin membenahi dirinya terutama pada aspek managemen, baik administrasi, keuangan, dan delegation of authority atau pembagian kerja yang proporsional dan profesional. Hal ini sesuai dengan prinsip managemen modern yang selalu mengedepankan efektifitas dan efisiensi, selain kompetensi. Tidak kalah pentingnya, dalam penguatan kelembagaan juga ada semangat tranparansi yang mesti dijunjung tinggi, apalagi dalam rangka pencitraan dan ketauladanan yang positif terhadap masyarakat pada umumnya.

Ketiga, lebih mengedapankan dunia akademik dan memelihara tradisi intelektual. Sudah menjadi keharusan universal bagi lembaga perguruan tinggi termasuk UIN SGD untuk senantiasa menciptakan semangat intelektualitas yang tinggi dan terus-menerus, termasuk persyaratan utama dalam konteks kepemimpinan institusi. Sebab pada gilirannya “seleksi alam” atau sunnatullah yang akan memberikan pelajaran berharga bagi mereka yang konsisten maupun yang inkonsistensi, sebagai sebuah konsekuensi logis. Wallahu’alam

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Senin, 24 Maret 2008

Alamat-alamat (E-Mail) Surat Kabar Nasional

Bila anda bermaksud ngirim artikel, tulisan, berita, info mendadak dll. ke media yang anda inginkan, barangkali di sini akan anda dapatkan. Jika ternyata sudah berubah, mohon maklum. Bahkan saya mohon diberitahu jika ada perubahan alamat. Ini pun saya dapat dari temen2 di blogger ini. Mudah-mudahan manfaat.....

SURAT KABAR NASIONAL

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
opinion@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
jktpost2@cbn.net.id

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
editorial@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
sundaypos@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
features@thejakartapost.com

JAWA POS
E-mail Address(es):
editor@jawapos.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
kompas@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.co.id

KOMPAS
E-mail Address(es):
kcm@kompas.com

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
webmaster@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksimedia@yahoo.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
widabdg@seputar-indonesia.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@seputar-indonesia.com

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
rekor@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
medika@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
sekretariat@republika.co.id

HARIAN IBU
E-mail Address(es):
redaktur@harianibu.com

SURAT KABAR JAKARTA

MERDEKA
E-mail Address(es):
merdekanews@yahoo.com

HARIAN INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@harian-indonesia.com

RAKYAT MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@rakyatmerdeka.co.id

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo@harianjakarta.com

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo_jakarta@yahoo.com

INVESTOR DAILY
E-mail Address(es):
koraninvestor@investor.co.i

KOMPAS INSIDE
http://www.kompasinside.blogspot.com

SURAT KABAR JAWA BARAT

KOMPAS JABAR
E-mail Address(es):
kompasjabar@kompas.co.id

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
koransp@suarapembaruan.com

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
opini@suarapembaruan.com

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
info@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
opinish@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
redaksi@sinarharapan.co.id

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@gmail.com

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@yahoo.co.uk

METRO BANDUNG
E-mail Address(es):
metrobdg@rad.net.id

KORAN SUNDA
E-mail Address(es):
koran_sunda@yahoo.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@pikiran-rakyat.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
cakrawala@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
kampus@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia_pr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
gelora@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
dwi@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
otokirpr@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
didih_otokir@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
mardjanzen@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
prminggu@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
khazanah@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
beritapr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
percil@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
wakhu@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT (BUDHIANA)
E-mail Address(es):
budipr_bdg@yahoo.com

TRIBUN JABAR
E-mail Address(es):
tribunjabar@persda.co.id
atau tribunjabar@yahoo.com

SURAT KABAR JAWA TENGAH DAN JOGJA

KOMPAS JATENG
kompasjateng@kompas.co.id

KOMPAS JOGJA
kompasjogja@kompas.co.id

SUARA KARYA
E-mail Address(es):
redaksi@suarakarya-online.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
humainia@yahoo.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@suaramer.famili.com

SOLO POS
E-mail Address(es):
litbang@solopos.net

SOLO POS
E-mail Address(es):
redaksi@solopos.net

WAWASAN
E-mail Address(es):
redaksi@wawasan.co.id

BERNAS
E-mail Address(es):
bernasjogja@yahoo.com

BERNAS
E-mail Address(es):
editor@bernas.co.id

KEDAULATAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@kr.co.id

RADAR KUDUS
E-mail Address(es):
radarkudus@hotmail.com

SURAT KABAR JAWA TIMUR

KOMPAS JATIM
kompas@sby.dnet.net.id

SURYA
E-mail Address(es):
surya1@padinet.com

SURABAYA NEWS
E-mail Address(es):
surabaya_news@yahoo.com

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
redaksi@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
tya@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
surabayanews2003@yahoo.com

DUTA MASYARAKAT
E-mail Address(es):
dumas@sby.centrin.net.id

RADAR SURABAYA
radarsurabaya@yahoo.com

SURAT KABAR BALI, SUMATERA, KALIMANTAN DAN SEKITARNYA

SURAT KHABAR BALI DAN SEKITARNYA
BALI POST
E-mail Address(es):
balipost@indo.net.id

BISNIS BALI
E-mail Address(es):
info@bisnisbali.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpostbali@yahoo.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpos@indo.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@kupang.wasantara.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@persda.co.id

SURAT KHABAR KALIMANTAN
RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
afoez99@gmail.com

RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
redaksi@radarbanjarmasin.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@yahoo.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@persda.co.id

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
bpostmania@telkom.net

PONTIANAK POST
E-mail Address(es):
redaksi@pontianakpost.com

KALTIM POST
E-mail Address(es):
redaksi@kaltimpost.net

SURAT KHABAR SUMATERA
RIAU POS
E-mail Address(es):
redaksi@riaupos.co.id

LAMPUNG POST
E-mail Address(es):
redaksilampost@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
bangkapos@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
redaksi@bangkapos.com

BATAM POS
E-mail Address(es):
redaksi@harianbatampos.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sriwijayapost@yahoo.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sripo@persda.co.id

RIAU TRIBUNE
E-mail Address(es):
riautribune@yahoo.com

SERAMBI
E-mail Address(es):
serambi@indomedia.com

SERAMBI NEWS
E-mail Address(es):
redaksi@serambinews.com

MAJALAH

Berikut ini beberapa majalah yang beredar di sekitar kita.

READER'S DIGEST
E-mail Address(es):
Respati.Wulandari@feminagroup.com

READER'S DIGEST
E-mail Address(es):
editor.rd@feminagroup.com

SALAFY
E-mail Address(es):
majalahsalafy@ygy.centrin.net.id

SINYAL
E-mail Address(es):
redaksi@majalahsinyal.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
redaksi@hidayatullah.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
majalah@hidayatullah.com

SWA
E-mail Address(es):
swaredaksi@cbn.net.id

SWA
E-mail Address(es):
sekredswa@yahoo.com

TEMPO
E-mail Address(es):
koran@tempo.co.id

TEMPO
E-mail Address(es):
teknologi@tempo.co.id

TRUST
E-mail Address(es):
redaksi@majalahtrust.com

ANNIDA
E-mail Address(es):
annida@ummigroup.co.id

BOBO
E-mail Address(es):
bobonet@gramedia-majalah.com

FORUM
E-mail Address(es):
forumkeadilan@yahoo.com

FORUM
E-mail Address(es):
redaksi@forum.co.id

GADIS
E-mail Address(es):
info@gadis-online.com

GATRA
E-mail Address(es):
redaksi@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
gatra@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
surat@gatra.com

GE MOZAIK
E-mail Address(es):
ge_mozaik@ganeca-exact.com

GONG
E-mail Address(es):
gongetnik@yahoo.com

HAI
E-mail Address(es):
hai_magazine@gramedia-majalah.com

HEALTHY LIFE
E-mail Address(es):
read_healthylife@yahoo.com

INFOLINUX
E-mail Address(es):
redaksi@infolinux.co.id

INSIDE INDONESIA
E-mail Address(es):
admin@insideindonesia.org

INTISARI
E-mail Address(es):
intisari@gramedia-majalah.com

MAJALAH ILMIAH QUAD
E-mail Address(es):
quad@brawijaya.ac.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
hsantoso@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
eniman@paume.itb.ac.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
unjani@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
fmunjani@bdg.centrin.net.id

MATABACA
E-mail Address(es):
ade_trimarga@yahoo.com

MATABACA
E-mail Address(es):
adetri@matabaca.com

MATABACA
E-mail Address(es):
redaksi@matabaca.com

MATRA
E-mail Address(es):
matranet@rad.net.id

NEOTEK
E-mail Address(es):
redaksi@neotek.co.id

PARAS
E-mail Address(es):
majalahparas@yahoo.coma

TABLOID

TABLOID

TABLOID INTELIJEN
E-mail Address(es):
tabloid_intelijen@yahoo.com

TABLOID ROAMING
E-mail Address(es):
redaksi@tabloidroaming.com

TABLOID SMS
E-mail Address(es):
tabloid_sms@yahoo.com

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
trendigital@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
ahmad.djauhar@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
web@bisnis.co.id

JURNAL

Berikut ini alamat beberapa jurnal.
JURNAL
E-mail Address(es):
jurnal@cbn.net.id

JURNAL ILMIAH HUKUM LEGALITY...
E-mail Address(es):
heru@umm.ac.id

JURNAL ISLAM
E-mail Address(es):
jurnalislam@yahoo.com

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM
E-mail Address(es):
i3ti@indosat.net.id

JURNAL RISTEK
E-mail Address(es):
jurnal@ristek.go.id

JURNAL SAINS MATEMATIKA TEKN...
E-mail Address(es):
jmst@utlab.ut.ac.id

Sumber : http://alamat-media.blogspot.com/
Thx.



baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Sabtu, 08 Maret 2008

Saya Dan Andrea Hirata

Mutakhir saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya jatuh cinta pada tulisan sastra. Biasanya saya membaca judulnya saja karya-karya sastra, apa itu novel, cerita pendek dan sejenisnya sama sekali kurang minat. Malahan males-malesan untuk sekedar meliriknya saja. Kalau melihat kawan-kawan saya yang berminat, bahkan yang fanatik banget sama karya-karya sastra, saya berfikir, apa sih asyiknya baca buku-buku itu, kok sepertinya buku-buku itu menghipnotis mereka. Mungkin ekstrimnya, buku-buku itu lebih enak dan lezatnya melebihi makanan cepat saji seperti Mc Donald, KFC, CFC, atau makanan khas sunda dengan sambel dan lalapannya. Pokoknya, sulit diterima akal sehat saya.

Pernah di masa SLTA sampai awal masuk kuliah, saya diberi anugerah minat baca komik "Kho Ping Ho",yang berjilid-jilid, mungkin seingat saya puluhan jilid dalam satu judul. Alhasil, komik-komik itu saya lalap sampai-sampai lupa jam makan (sebetulnya saya tidak pernah mengenal jam makan, sebab tergantung punya uang atau tidak). Seingat saya, pernah bolos kuliah, karena tuntaskan komik Kho Ping Ho yang berjudul "Pendekar Seruling Emas". Pada saat itu, saya tidak merasa menyesal karena tidak masuk kuliah gara-gara penasaran ingin tuntaskan cerita yang menurut saya saat itu sangat asyik dan nikmat.Tapi, sesuai dengan berjalannya waktu -- saya mulai setengah serius kuliah dan menfokuskan pada mata kuliah sosiologi -- minat saya menurun dengan buku-buku bacaan yang berkaitan dengan sastra, apa saja judul dan pengarangnya.


Saya transisi, bukan benci dan bukan seneng, bukan celaan dan bukan apresiatif, tidak dekat dan tidak jauh -- lebih tepat tidak punya definisi yang pas untuk memotret karya sastra. Mungkin saya sudah melepaskan stereotype yang dulu yang pernah bersenyawa dengan jiwa saya. Boleh jadi, para penggiat sastra menganggap orang yang tidak tersentuh dengan karya sastra seperti rumput kering di pada ilalang yang sewaktu-waktu mudah terbakar. Memang, pernah saya seperti rumput kering yang gampang terbakar, mudah tersentak, reaksioner dan dahi mudah "kerung" (Bhs.Sunda yang artinya ditengah-tengah antara dua mata melipat menyerupai angka 11), kata teman, kalau dahi kerung terus-menerus akan terjadi akselerasi usia "kokolot begog" (Bhs. Sunda: artinya,tua sebelum waktunya).


Langsung saja, waktu itu saya tak sengaja nonton acara Kick Andy di Metro TV, yang tanpa tendensius membiarkan terus channel TV itu meliput Andy F Noya sebagai presenter yang mewancarai seseorang berambut gondrong. Kebetulan remote control TV saya pegang (biasanya sama anak saya yang nomor 2),dan saya suka dengan gaya zig-zag kalau ekplorasi acara TV -- mencari acara yang sesuai dengan hasrat personal dan komunal. Yang terakhir ini berdasarkan reques dari publik family di sekitar saya.


Sekali lagi, lemat-lemat sambil jari-jari jempol siap memindahkan channel -- saya mendengarkan dialog Andy dengan laki-laki rambut gondrong usia setengah baya itu, membahas tentang karya tulis best seller yang sebagian besar bersumber dari realitas hidupnya sang penulis. Tadinya saya tidak berminat melihat tayangan itu, sebab performance laki-laki gondrong itu bukan seperi cendekiawan, ilmuwan terkenal, budayawan, sang maestro, ustadz kondang,atau kalangan selebritis yang lagi ngetren.Tapi sejenak, saya dibikin tercegang setengah bengong, laki-laki itu menceritakan karya tulisnya didasarkan realitas hidupnya yang amat sangat inspiratif dan fantastis.

Antara percaya dan tidak, selang beberapa menit kemudian, Andy presenter memanggil saksi hidup untuk mengkonfirmasi validitas presentasi laki-laki gondrong setengah galing itu. Dari situlah saya mulai serius -- sambil sila di depan TV -- menyaksikan dramatisasi antara penulis dan saksi hidup yang sudah lama tidak berjumpa. Ternyata, sang penulis yang baru saya kenal dari TV itu bernama Andrea Hirata dan saksi hidupnya Ibu Muslimah – Ibu guru Andreas semasa di SD Muhammadiyah Belitong.

Tayangan itu, sekelebatan seperti aroma bunga melati di depan rumah yang baru mengeluarkan wewangiannya ketika di malam hari. Saya mulai merasakan ada sesuatu yang mempengaruhi aspek afeksi dengan sedikit melupakan aspek kognisi saya. Meskipun pada hari ke tiga setelah melihat acara TV yang memukau itu, saya mulai akrab lagi dengan dunia yang selama ini saya geluti yaitu produk August Comte – konon Bidannya Sosiologi. Seperti biasanya saya hanyut lagi di samudra yang selalu haru-biru dengan segala yang serba empirik.

Lagi-lagi saya belum begitu tertarik dengan bacaan-bacaan sastra, hanya saja ketika ada salah satu teman yang mengebu-ngebu mengapresiasi karya Andreas Hirata yang berjudul “Laskar Pelangi”, saya jadi penasaran, apa sih bagusnya?!. Sesampai di rumah, anak saya yang pertama kelas 1 MTs (setingkat SMP), menceritakan tentang pertemuannya dia dengan Andreas Hirata yang kebetulan diundang ke sekolahnya dan membagi-bagikan karya novelnya yang sama pada beberapa murid yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Meskipun anak saya tidak kebagian gratis, tapi dia sempat meminjam dari temannya untuk dibaca, dan ternyata dia juga terkena “magnet” karya sang penulis cerdas itu. Semakin menambah kepenasaran, secepat kilat saya pun mencari buku-buku karya Andreas Hirata ke beberapa toko buku. Alhamdulillah saya temukan paling tidak yang bisa saya beli yaitu Novel Tetralogi “Laskar Pelangi” dan “Sang Pemimpi”. Dan masih ada dua karya novelnya yang belum sempat saya beli yaitu “ Edensor” dan “Maryamah Karpov “.

Dari situ, saya mulai menikmati karya sastra yang menurut saya sangat luar biasa. Sebab terlepas setuju atau tidak, menurut saya sebuah karya sastra dianggap exellences kalau dapat menggugah emosi afeksi di bawah alam sadar. Artinya, tatkala seseorang membaca sebuah karya sastra yang dianggap representatif, secara otomatis si pembaca akan merasa terlibat di dalamnya sekaligus memicu hormon adrenalin untuk melakukan sesuatu. Paling tidak, karya itu pada gilirannya mempengaruhi pola prilaku para pembaca, minimal semakin memotivasi untuk selalu eksplorasi setiap jengkal dari karya-karya sastra yang lain.

Untuk tidak terlalu “mengkultuskan” -- saya berusaha untuk menetralisir dengan bacaan-bacaan yang bernafaskan positivistik -- ketika saya dalam proses memahami jalan pikiran Andreas. Alih-alih sebagai balancing, ternyata saya menikmati betul apa yang dia tulis kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang kadangkala masih juga perlu penjelasan dari glosary nya.

“Wow Luar biasa karya ini !?”, gerutu saya. Sampai-sampai (maaf bang Andrea), sambil ke kamar mandi pun saya baca novel-novel dia. Tanpa saya sadari saat-saat membaca novelnya, saya tersenyum sendiri, tertawa terbahak-bahak sendiri bahkan ikut berempati ketika menikmati bacaan itu. Malahan kadangkala keasyikan yang saya raih itu, ingin dibagikan ke teman-teman atau orang-orang disekeliling. Sebab seingat saya, selama hidup belum pernah saya membaca buku apa saja judulnya, terbawa emosi dan memberikan apresiasi berlebihan. Baru kali ini saya merasakan kenikmatan membaca seperti menikmati minuman segar dikala dahaga saat berbuka puasa. Sekali lagi, “Wow luar biasa karya Andreas Hirata ini”.

Untuk Andrea Hirata, saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas karyanya yang dapat memotivasi saya dan para pembaca yang lain untuk lebih berkreasi dan lebih produktif. Dan saya beranggapan karya-karya anda layak mendapatkan penghargaan karya sastra luar biasa di era mutakhir ini. Semoga anda tetap dalam lindungan Tuhan YME ketika anda menulis karya berikutnya, sehingga selalu mempunyai makna dan “ruh” untuk menciptakan sebuah perubahan etos atas makhluk Indonesia yang hari ini sedang banyak dirundung krisis multi-dimensi. Bravo Andrea Hirata.


baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Rabu, 20 Februari 2008

Pendidikan Anti Korupsi Semenjak Usia Dini

Semarak pemberantasan korupsi di Indonesia belakangan ini, mengindikasikan keseriusan pemerintah Indonesia untuk menghilangkan praktek-praktek amoral dan ahumanis itu. Tidak sedikit para oknum aparatur negara atau pengusaha nakal yang sudah dan telah menjalani proses hukum di era kepemimpin SBY yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekayaan negara. Pro-kontra pun mewarnai proses hukum yang berjalan sesuai dengan latar-belakang kepentingannya masing-masing. Sebagian beranggapan proses hukumnya bernuansa politis, dengan asumsi "tebang pilih". Sebagian lagi, beranggapan proses hukum sesuai dengan prosedur yang berlaku. Jelasnya, ternyata itikad (niat) baik itu tidak selalu berjalan mulus meskipun berkaitan kebenaran universal (semua manusia sepakat).


Untuk tidak menyebut "lamban dan ragu-ragu", para pengamat beranggapan bahwa pemerintahan SBY dalam setiap mengambil kebijakannya senantiasa terkesan kurang tegas, tidak terkecuali kasus korupsi. Boleh jadi, gaya atau style SBY yang "flamboyan" itu sudah menjadi bagian dari karakter personality dia. Terlepas setuju atau tidak, itulah gaya yang dimiliki oleh Presiden kita hari ini. Memang, kadangkala dalam hal-hal tertentu menguntungkan, namun dalam konteks pemberantasan korupsi, praktis dibutuhkan akselerasi yang proporsional. Maksudnya, bila penanganan kasus korupsi kurang tanggap dan cepat, para "penyamun" uang negara itu keburu kabur, atau menghilangkan barang bukti. Realitas yang demikian ini sudah berulang-ulang terjadi, seperti para Obligator BLBI sebagian sudah tidak berada di Indonesia, dan masih banyak lagi kasus yang serupa.

Pada dasarnya, mayoritas masyarakat kita amat sangat berharap seluruh kekayaan negara dapat dikembalikan dari para koruptor itu, untuk membantu menyelesaikan krisis ekonomi yang sampai sekarang mendera bangsa kita. Tetapi apa yang terjadi hari ini? pemberantasan korupsi berbanding lurus dengan masih menjamurnya praktek-praktek korupsi di Pusat maupun di daerah. Lagi-lagi muncul pertanyaan, apa yang terjadi dengan warga-bangsa kita? Sejauh mana parahnya kondisi mental-spiritual warga bangsa kita? Apakah ada terapi mujarab yang dapat menghilangkan "penyakit" itu? Jawabannya terletak pada itikad baik dari seluruh kompenen bangsa untuk menyelesaikan kasus itu dengan sungguh-sungguh.

Adalah alternatif yang relatif dapat dijadikan salah satu terapi/metode dalam penyelesaikan korupsi di Indonesia. Yakni, memperkenalkan "Anti Korupsi" kepada anak didik (siswa) dalam bentuk "Mata Pelajaran Wajib" di sekolah-sekolah. Mata pelajaran Anti Korupsi itu, seyogyanya disajikan mulai dari tingkat dasar sampai menengah (SD-SMU). Terserah teknis penyajiannya, apakah digabungkan dengan mata pelajaran yang sejenis, seperti agama atau pendidikan moral. Ataukah menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri atau khusus yang menjadi bagian kurikulum nasional. Perihal ini, bisa didiskusikan lebih lanjut dengan para pakar pendidikan yang berkompeten. Tapi yang jelas, perlunya sosialisasi kepada anak didik (siswa) di sekolah-sekolah tentang praktek-praktek korupsi.

Ada beberapa keuntungan yang dapat diambil dari metode ini dalam memberantas korupsi di Indonesia. Pertama, para siswa dari semanjak usia dini sudah mengetahui tentang seluk-beluk praktek korupsi sekaligus konsekuensi yang akan diterima oleh para pelaku. Kedua, memberikan proses pembelajaran tentang kepakaan terhadap praktek-praktek korupsi yang ada disekitarnya. Ketiga, mendidik para siswa dari usia dini tentang akhlak atau moral yang sesuai dengan ajaran-ajaran sosial keagamaan. Keempat, menciptakan generasi penerus yang bersih dari prilaku penyimpangan kamanusiaan (dehumanisasi), dan kelima, membantu seluruh cita-cita warga bangsa dalam menciptakan good-goverment demi masa depan yang lebih baik dan beradab.

Dengan demikian, ke depannya dalam pemberantasan korupsi di Indonesia tidak terlalu banyak menyita energi dan ongkos sosial yang tinggi. Dengan kesadaran yang dimiliki oleh sebagian besar warga bangsa melalui pendidikan, paling tidak akan semakin memperkecil prilaku korupsi -- meskipun tidak sekaligus musnah dari bumi Nusantara ini. Di atas itu semua, adalah niat baik disertai dengan usaha keras merupakan manifestasi dari "Insan Kamil" atau manusia yang sempurna sesuai dengan fitrahnya.

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

Selasa, 12 Februari 2008

Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Perbedaan cara pandang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan sebagian anggota DPR RI tentang interpelasi BLBI, menjadi polemik yang menghangatkan atmosfir perpolitikan republik ini. Hampir semua orang tertuju pada polemik itu, meski sebagian warga masih ada yang larut atas meninggalnya Pak Harto (mantan Presiden RI ke 2) dengan berbagai beban hukumnya. Ternyata idiom interlepelasi bukan moment yang dianggap wajar dan lumrah dalam wacana demokrasi di negeri ini. Padahal di negara-negara yang menganut demokrasi, interpelasi sudah menjadi "sarapan" sehari-hari mereka. Apalagi dalam sistem demokrasi, interpelasi merupakan proses dialogis yang produktif antar eksekutif dan legislatif untuk mencari solusi yang terbaik bagi bangsa.

Dalam kasus ini, alih-alih ada komunikasi politik yang sehat antara Presiden SBY dan DPR RI, malahan keduanya saling adu argumentasi dengan berbagai retorika yang sulit dipahami oleh rakyat banyak. Lebih ironisnya lagi, permasalahan yang dijadikan polemik adalah sesuatu yang bersifat "teknis" dan tidak menyentuh substansi materi interpelasi BLBI. Sepertinya, satu sama lain sudah merasa perpegang pada mekanisme yang berlaku dan mengaku mempunyai otoritas truth klaim yang populis. Alhasil, kedua penyelenggara negara ini sulit ketemu dan dalam titik sumbu yang berbeda untuk hal yang tidak signifikan, sehingga gilirannya yang terjadi adalah sekedar "dramatisasi" dialogis yang absurd (nihil).

Bagi Presiden SBY, kehadiran di Sanayan (Gedung DPR RI) bukan keharusan dalam penyampaikan hak jawabnya kepada para wakil rakyat itu, sebab menurutnya cukup diwakilkan oleh para menterinya sebagai pembantu Presiden. Sementara sebagaian anggota DPR RI, beranggapan Presiden berkewajiban hadir untuk menyampaikan hak jawabnya tentang kasus BLBI dengan alasan keseriusan Presiden dalam menyelesaikan BLBI ditentukan oleh kehadirannya. Kedua alasan yang paradoks itu sebetulnya mencerminkan sikap ketidakdewasaan (childness) yang dipertontonkan kepada seluruh rakyat yang hari ini mereka didera berbagai kesulitan hidup. Terlepas dari reasoning yang mereka (Presiden dan DPR RI) kemukakan berdasarkan mekanisme dan aturan, tetapi ada fatsun politik yang mereka abaikan, yaitu kecerdasan emosional dalam berpolitik. Kecerdasan emosional inilah yang menjadi standar tingkat kedewasaan seseorang dalam menyelesaikan berbagai masalah, apalagi masalah yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Menilik kasus interpelasi BLBI ini, sepertinya merefleksikan kepribadian dari para penyelenggara negara yang ternyata lebih banyak menonjolkan kepentingan politik jangka pendek ketimbang politik "Adi Luhung" atau "High Political". Hari ini, sebagian besar rakyat Indonesia sudah letih dan kehabisan energi untuk terus-menerus menyaksikan akrobat para penyelenggara negara tanpa menuai hasil yang berarti bagi semua warga negara. Dan yang paling menggembirakan lagi, rakyat sudah "melek" politik untuk melihat, mengawasi dan sekaligus mengevaluasi para manuver politik atau hidden agenda para pemimpinnya. Dengan begitu, lebih pantas kalau konteks ini meminjam judul lagu Brury Pesolima, "Jangan Ada Dusta di Antara Kita".

baca selanjutnya dan beri komentar(klik disini)...

blogger templates | Make Money Online